About Me

My photo
Hidup tak akan berarti kalau bukan diri sendiri yang membuatnya berarti

Saturday, January 3, 2015

FF Sands Chronicle / Sands Glass / Sunadokei Ch 3



Normal POV

                Satu hari.

                Dua hari.

                Tiga hari.

                Seorang pemuda duduk membelakangi pintu kamar rumah sakit, ia hanya diam tak bergerak dan tampak sayu memegangi tangan sesosok wanita cantik yang sayangnya tertutupi oleh wajahnya yang seputih kapas. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, muncullah seorang laki-laki tua yang tak kalah sayu dengan laki-laki yang duduk disamping tubuh anak gadisnya.
                “Nak Daigo, sebaiknya anda pulang saja. Sudah tiga hari kamu menemani Ann tanpa pulang sekalipun,” ujar laki-laki tua itu yang ternyata ayahnya Ann.
                “…”
                “Nak Daigo,” ujar ayahnya Ann seraya berjalan mendekati Daigo lalu menepuk pelan pundaknya.
                “Saya… saya ingin disini saja. Menunggu Ann sadar,”
                “Tidak, saya tidak mengijinkannya! Kamu sudah tiga hari disini tanpa tidur, mandi, dan hanya makan seadanya. Saya yakin ketika Ann sadar, ia akan sedih melihat keadaan kamu yang begini,”
                “Tapi bagaimana kalau Ann sadar?”
                “Tenang saja, saya pasti akan mengabari nak Daigo kalau Ann sudah sadar. Jadi sebaiknya kamu pulang lah dulu. Orang tua mu pasti mencemaskan mu,”
                Setelah itu Daigo pergi untuk pulang. Tak lupa ia memberikan ucapan terima kasih kepada ayahnya Ann.

Daigo POV

                Setelah keluar dari kamar Ann, aku langsung pergi keluar rumah sakit untuk mencari taksi. Cepat-cepat aku menaiki taksi yang ku lihat pertama kali.
                Aku tak boleh membuang-buang waktu!
                Sesampainya di rumah, aku langsung pergi mandi. Setelah selesai mandi, aku berniat langsung pergi ke rumah sakt lagi. Tapi niat ku terhalangi oleh ibu ku.
                “Mau kemana kamu? Baru juga pulang,” ujar ibuku heran.
                “Mau ke rumah sakit, bu,” jawab ku sambil melangkahkan kaki ku menuju pintu keluar. Tapi ibuku langsung menahan ku.
                “Tidak, ibu tidak mengijinkan kamu pergi ke rumah sakit sekarang. Kamu pulang pasti karena disuruh keluarga Ann untuk pulang dan beristirahan kan? Ibu yakin disana kamu tidak tidur dan makan dengan teratur. Pokoknya sekarang kamu makan dulu lalu tidur sebentar,”
                “Tapi bu…”
                “Tidak ada tapi tapian! Ibu tau kamu mengkuatirkan Ann, sama ibu juga, tapi caranya tidak begini nak. Bukan dengan menyakiti diri kamu sendiri. Ann pasti sedih kalau tahu kamu begini,”
                Dengan lunglai aku pergi ke ruang makan untuk makan. Dengan perasaan tak bernafsu, aku menyentuh makanan ku, yang biasanya menurutku makanan ibuku adalah yang terenak tapi tidak untuk sekarang. Menurut ku tak ada rasanya. Hambar. Cepat-cepat aku menghabiskan makanan ku lalu pergi ke kamar tidurku. Mencoba untuk tidur.
                “Haaaah, kenapa jadi begini sih. Kalau tahu kejadiannya begini, aku tak akan meninggalkan Ann,”
                Aku pun mencoba memejamkan mata ku. Mencoba untuk tidur. Ternyata mungkin karena sudah tiga hari menunggui Ann dan tidak tidur sama sekali. Mataku dengan gampangnya terpejam dan langsung terbawa ke alam mimpi.
                “Daigoooo… Hihihi… Halooo,” ujar sosok itu yang sedang berlari-lari mendekati ku.
                Siapa itu? Pikir ku
                Setelah sosok itu semakin dekat, barulah aku sadar sapa dia. Seketika itu jantung ku berdebar-debar lebih keras serasa ingin copot, mataku membulat sempurna, dan pita suara ku terasa putus.
                ANN! Teriak ku tak percaya dalam hati
                “Hai daigo, apa kabar?”  Tanya nya dengan wajah tak berdosa.
                “Ann, benar ini kamu? Kamu tak akan meninggalkan ku kan?” Tanya ku seraya memegang lembut pipinya lalu ku peluk erat-erat agar dia tak akan pergi kemana-mana lagi.
                TESS! Rintik air mata membasahi pipiku,.
                “Daigo, maaf, aku harus pergi. Aku kesini hanya ingin pamit,” ujar Ann sambil melepas pelukan ku. Lalu tanpa ku sadari ia mulai mundur.
                “Hahaha Ann please jangan bercanda. Ini semua bohongkan? Kamu tak akan pergi kemana-mana kan?! “ aku berlari mengejar Ann yang akan pergi.
                “Maaf Daigo, sekali lagi maaf. Aku tak bisa bertahan lagi lebih dari ini. Aku mencintai mu selalu dan selamanya,” lalu sosok Ann menghilang dari hadapan ku.
                “Aku juga mencintai mu Ann! Baka! Dimana kau?! Cepat kembali!!! Argggghhh!” teriak ku frustasi. Aku berlari-lari disekitar tempat itu mencari Ann. Tapi nihil.  Aku tertunduk menangis merutuki betapa bodohnya aku.
                Kriiiing kriiiing
                Suara itu membuat ku tersadar dari mimpi ku. Aku langsung bangun dari tidur ku. Peluh membanjiri seluruh tubuh ku.
Hoh ternyata itu hanya mimpi. Sungutku dalam hati.
                Kriiiing kriiiing
                Suara itu lagi memecah lamunanku. Kulirik meja disamping ku. Ternyata hape ku yang berbunyi. Segera aku mengambil hape ku. Disana tertera nomer ayahnya Ann. Tiba-tiba perasaan ku menjadi tak enak. Segera saja ku angkat.
                “Ha… Halo?” saat kuangkat telepon itu.
                “Halo Daigo? Ini ayah Ann. Daigo, saya punya kabar buruk. Ann… ann kembali kritis!”
                PRAAAK! HPku meluncur mulus dari jemariku  jatuh ke lantai.
                Segera aku pergi menuju rumah sakit menaiki taksi. Aku tak percaya semua ini terjadi.
                Apakah mimpi ku tadi itu sebuah pertanda? Apakah Ann benar-benar akan meninggalkan ku?
                Sepanjang perjalanan tubuhku menggigil ketakutan. Pikiran kalau Ann akan meninggal kan ku selalu bertambah kuat seiring dengan taksi ku yang semakin mendekati rumah sakit dimana Ann dirawat. Sesampainya dirumah sakit, aku langsung berlari menuju kamar Ann.
                Kulihat disana Ayah, nenek, kakek, ibu tiri Ann juga chii-chan menangis disana.
                DEG!
                Perasaan ku semakin tak enak melihat itu semua. Tanpa kusadari kaki ku melangkah menuju mereka
                “Ann… ann.. gimana keadaan Ann?” tanyaku dengan bibir yang gemetar menahan tangis.
                “…” tak ada seorang pun yang menjawab. Hati ku bertambah kesal.
                “GIMANA ANN?!!! DIA TAK APA-APA KAN??!! JAWAB AKU!!!” teriak ku frustasi kepada meeka semua.
                “Daigo, saya tahu ini berat. Tapi keadaan Ann sangatlah kritis. Kemungkinan selamat sangatlah kecil. Kita harus mencoba mengikhlaskan Ann, nak Daigo,” Akhirnya ayahnya Ann yang menjawab.
                TESSS!!! Sebutir cairan bening lagi-lagi mengalir di pipi ku. Padahal aku sangat jarang menitikkan air mata.
                Bohong? Ini bohong kan?! Ayolah kenapa mereka tak berteriak “April mop, selamat ya kau tertipu daigo” padahal aku sudah menangis begini.
                Dan sadar lah aku kalau mereka tak berbohong.
                Dua jam.
                Itulah lama kami menunggu ketidakpastian.
                BRAAAK! Pinti ruang ICU itu akhirnya terbuka dan keluarlah sang dokter.
                “Dokter, gimana keadaan Ann??!!!” Tanya ku tak sabar.
              “Saya harap kalian semua harus kuat mendengar berita ini. Maaf sekali, kami sudah berusaha semampu kami, tapi Tuhan lah yang menentukan. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Ann. Maaf sekali lagi,” kata dokter itu lalu melenggang pergi.
                TIDAK! Ini bohong kan? Ann? Meninggal? Tak mungkin!
                “Hahaha. Ayolah kenapa kalian semua menangis? Dokter itu tentu saja bohong. Tak mungkin Ann meninggal,” ujar aku sambil tertawa miris.
                Chii-chan lah yang menyadarkan ku dengan menghampiriku dan memelukku.
                “Kak Daigo,sadar kak. Kak Ann… Kak Ann sudah tidak ad…” Chii-chan belum sempat menyelesaikan kata-katanya karena aku langsung berteriak.
                “TIDAAAAK!!! TIDAK MUNGKIIIN!!!” Teriakku seraya menutup kuping. Air mata ku yang menetes bertambah deras.
                “ANN! ANN!!!! BANGUN! KUOHON BANGUUUN!!!” Aku langsung berlari ketempat Ann berada.

IMPLIKASI PERKEMBANGAN EKSPOSUR UTANG LUAR NEGERI SWASTA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA



Indonesia, sebagai negara berkembang, kini sudah mulai meninggalkan konsep pemerintah ke konsep swasta sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Peningkatan peran swasta berupa ekspansi usaha sangatlah membutuhkan pendanaan yang cukup besar, tetapi pinjaman domestik tidaklah cukup untuk memenuhi permintaan pendanaan swasta domestik dan pihak luar memiliki sumber pinjaman yang melimpah. Oleh karena itu, pihak swasta di Indonesia meminjam dana dari luar untuk ekspansi usahanya tersebut sehingga utang luar negeri swasta tersebut meningkat. Terlihat pada tahun 2009, utang luar negri swasta di Indonesia sebesar USD 73.606 juta dan pada tahun-tahun selanjutnya terus mengalami peningkatan sampai pada awal tahun 2014, utang luar negeri swasta di Indonesia menjadi sebesar USD 141.352 juta. Tingginya utang luar negeri swasta ini membuat pemerintah dan para pengamat ekonomi cemas dengan keadaan perekonomian Indonesia, pasalnya utang merupakan objek yang sangat rentan terhadap resiko dan berdampak pada perekonomian Indonesia atau dengan kata lain eksposur.
Dalam jangka panjang, ULN swasta dapat menimbulkan berbagai macam persoalan ekonomi Indonesia. Defisit current account (CA) di sektor swasta menyebabkan utang eksternal swasta meningkat karena swasta membutuhkan dana untuk menutup defisit tersebut. Hal tersebut membuat foreign exchange reserve (FER) swasta menurun dan untuk meningkatkan FER maka swasta membeli dollar ke pasar uang menggunakan rupiah. Hal ini akan membuat nilai tukar rupiah jatuh dan mengalami depresiasi rupiah. Terlebih lagi depresiasi ini tidak diiringi dengan peningkatan ekspor, malah mengalami penurunan ekspor sehingga perekonomian Indonesia semakin terpuruk. Padahal dengan adanya depresiasi ini, nilai barang-barang ekspor akan meningkat.
Sebagian besar utang yang dimiliki pihak swasta kurang diikuti dengan kehati-hatian sehingga timbul fenomena maturity mismatch yang dihadapi sektor perusahaan secara umum. Maturity mismatch terjadi karena pinjaman jangka pendek yang diterima digunakan untuk membiayai investasi jangka panjang, sehingga terdapat risiko akibat perbedaan jatuh tempo antara aset dan kewajiban yang dimiliki. Apalagi banyak korporasi yang utangnya dalam valuta asing tetapi penerimaannya dalam rupiah dan tidak menerapkan lindung nilai atau hedging sehingga menimbulkan resiko yang cukup tinggi apabila terjadi depresiasi rupiah. Selain itu, dengan semakin meningkatnya ULN Swasta, maka pihak swasta akan semakin ketergantungan dari penerima bantuan (dalam negeri) terhadap pemberi bantuan (luar negeri).
Mulai dari pertengahan tahun 2011 sampai akhir tahun 2013, CA Indonesia mengalami defisit yang sangat mengkhawatirkan karena pembayaran CA menggunakan valas dollar sehingga terjadi peningkatan utang luar negeri secara riil. Selain pemerintah, swasta juga memiliki andil dalam defisitnya  transaksi berjalan (CA). Defisitnya neraca berjalan swasta meningkatkan ULN swasta karena untuk menutup defisit tersebut, swasta harus melakukan pinjaman. Tetapi di Indonesia pinjaman domestiknya masih sangat terbatas sehingga pihak swasta meminjam ke luar negeri. Pada 2013, baik transaksi berjalan pemerintah maupun swasta mengalami defisit. Kinerja transaksi berjalan pada tahun 2013 mengalami defisit 28,5 miliar dollar AS atau sekitar 3,26 persen dari produk domestik bruto. Ini patut menjadi perhatian karena pada tahun-tahun sebelumnya, transaksi berjalan swasta yang surplus selalu cukup untuk menutupi defisit pemerintah sehingga neracanya bertahan positif. Tetapi pada tahun 2013 jumlah utang negara mencapai 123.548 juta dollar AS dan utang swasta mencapai 140.512 juta dollar AS. Dalam satu dasawarsa terakhir, tenor utang swasta semakin pendek.
Utang luar negeri yang berlebihan dan pengelolaan yang tidak efektif dapat menyebabkan perekonomian suatu negara ambruk, sehingga diperlukan kebijakan ataupun tindakan dari pemerintah maupun swasta untuk menekan peningkatan ULN swasta tersebut. Pertama, perlu adanya pembatasan rasio utang luar negeri swasta karena dari tahun ke tahun ULN swasta semakin meningkat tetapi tren ekspor malah semakin menurun. Rasio ini bertujuan agar perusahaan lebih berhati-hati untuk menjalankan roda bisnisnya. Dalam hal ini, rasio liabilitas tidak lebih besar daripada asset valas perusahaan tersebut.
Kedua, financing dapat dilakukan dengan cara jual beli obligasi dan saham. Peningkatan penjualan obigasi ke masyarakat akan mengurangi ULN swasta dan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. Dengan diterbitkannya obligasi valas di negeri sendiri, pemerintah bisa mengamankan jumlah mata uang sehingga mata uang rupiah tidak melemah. Selama ini, dengan diterbitkannya obligasi valas di luar negeri, Indonesia rentan kehilangan dollar yang lebih besar, karena banyak pembelinya berasal dari luar. Yield koorporasi yang relative tinggi menyebabkan terjadinya capital inflow ke Indonesia, sehingga daripada melakukan utang luar negeri perusahaan lebih baik menerbitkan obligasi atau saham karena penggerak capital inflow adalah sentiment pelaku pasar, terutama investor asing.
            Ketiga, menghimbau pihak swasta untuk melakukan hedging atau lindung nilai kepada utang luar negerinya. Mayoritas para swasta tidak melakukan hedging pada utang-utangnya sehingga saat terjadi depresiasi rupiah, nilai utangnya akan menjadi tinggi karena utang tersebut berbentuk dollar. Dengan diberlakukannya hedging maka pengembalian utang valuta asing tersebut tidak akan mengalami lonjakan nilai akibat pelemahan kurs rupiah terhadap dolar.
Keempat, mengimbau para swasta untuk membuat ULN dalam bentuk jangka panjang. Banyak perusahaan swasta yang melakukan pinjaman luar negeri berjangka pendek untuk membiayai investasi jangka panjang (maturity gap) dan penggunaan utang untuk proyek yang tidak menghasilkan devisa (currency mismatch). Peningkatan utang luar negeri swasta mendorong peningkatan kewajiban pembayaran kembali. Hal ini memberatkan pembayaran pihak swasta jika sudah jatuh tempo karena investasi yang dilakukan malah berjangka pendek. Sebelum mendapatkan penerimaan, pihak swasta sudah diminta untuk membayar pinjaman beserta bunganya. Sehingga pemerintah mengimbau para swasta untuk segera membayar pinjaman jangka pendek dan melakukan pinjaman jangka panjang saja agar tidak menyulitkan saat jatuh tempo dan agar perekonomian Indonesia tetap stabil.
Kelima, menurunkan suku bunga kredit. Salah satu penyebab meningkatnya utang luar negeri swasta adalah karena tingginya suku bunga kredit bagi korporasi yang membuat korporasi tidak memiliki kesanggupan untuk mengambil kredit tersebut karena lebih beresiko. Sehingga para swasta lebih memilih untuk melakukan pinjaman luar negeri. Dengan menurunkan suku bunga kredit diharapkan akan meningkatkan investasi domestik dan mengurangi ULN swasta sehingga dapat merangsang pertumbukan ekonomi Indonesia.
Keenam, diberlakukannya system deposit saat swasta akan melakukan utang luar negeri. Biasanya para swasta tidak memiliki deposit untuk pembayaran cicilan utang beberapa periode ke depan sehingga saat jatuh tempo swasta tersebut akan terkena masalah. System deposit ini mengharuskan swasta memiliki dan menaruh deposit ini sebesar tiga kali cicilan utang mereka sehingga likuiditas pembayaran utangnya tidak bermasalah. Tindakan ini bertujuan untuk mengantisipasi saat perusahaan swasta mengalami gagal bayar atau ada permasalahan dalam keuangannya. Perhitungan deposit ini dapat digunakan untuk pembayaran utang lua negeri tanpa harus mengganggu cadangan devisa Indonesia.
Sebenarnya jika digunakan secara efisien dan tepat, ULN swasta dapat meningkatkan pendapatan nasional karena adanya peningkatan output. Kenyataannya di Indonesia, mayoritas ULN swasta berjangka panjang tetapi digunakan untuk investasi jangka pendek sehingga terjadi defisit current account  yang membuat foreign exchange reserve (FER) swasta menurun. Hal ini akan membuat nilai tukar rupiah jatuh dan mengalami depresiasi rupiah. Oleh karena itu peran pemerintah menjadi sangat dibutuhkan untuk menahan ULN swasta yang berlebihan agar perekonomian Indonesia tetap stabil.

Saturday, August 16, 2014

(RePost) FF Sands Chronicle / Sands Glass / Sunadokei Ch 2

Daigo’s POV

                “Daigo! Ada telpon untuk mu!” salah satu teman ku meneriaki ku. Aku pun segera menghentikan pekerjaan ku,mengajar,  dan ke kantor untuk menerima telpon itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba perasaan ku menjadi tak enak.
                “Halo,” sahut ku ketika mengangkat telpon.
                “Dimana Ann?” Tanya orang disebrang sana. Ann? Nama itu sudah lama tak ku dengar. Apa kabarnya ya? Tanya ku dalam hati.
                “Halo Daigo?” sahut orang itu yang langsung membuyarkan lamunan ku.
                “Hah? Iya iya. Ini saya. Ini siapa ya?” Tanya ku kepada orang itu.
                “Ini ayahnya Ann. Kamu lihat Ann tidak? Atau kamu sedang besama Ann?” Tanya ayah Ann (lagi).
                Ann? Kenapa ayahnya menanyakan ia kepada ku? Padahal kita sudah bertahun-tahun tak bertemu.
                “Tidak, Ann tidak bersama saya. Kenapa bapak menanyakannya kepada saya?”
                “Ann… menghilang Daigo! Ann hilang!”
                Ann? Hilang? Hey tanggal berapa ini? Sepertinya bukan april mop.
                “Mungkin dia ke kantor atau pergi bareng temannya. Dia kan sudah bukan anak kecil lagi,” jawab ku dengan setengah tidak yakin. Ketakutan tiba-tiba datang tanpa bisa ku halau.
                “Tidak mungkin. Tadi pagi Ann pamit pergi ke kantor dan seharusnya jam segini dia sudah pulang. Saya sudah telpon ke kantornya tapi ternyata kata teman-teman kantornya ia tidak masuk kantor dari pagi.”
                “Mungkin jalan dengan teman lamanya?”
                “Saya sudah telpon kesemua temannya dan tak ada satu pun yang hari ini melihat dia. Dan… dan… yang saya takutkan Ann berbuat sesuatu yang bisa mencelakakan dirinya sendiri…”
                “Tunggu dulu… Apa alasan Ann melakukan itu? Itu tak mungkin,”
                “Itu mungkin saja. Karena… karena sekarang Ann sedang mengalami masa sulit. Hiks,” suara ayah Ann yang mulai bergetar menambah ketakutan ku.
                “Masa sulit? Maksudnya apa?”
                “Memangnya kamu tidak tahu? Kalau Ann gagal menikah kemarin? Pacarnya memutuskannya secara sepihak. Dan saya takut hal ini membuat Ann nekat,”
                DUKK!!
                Aku jatuh terduduk mendengar berita itu. Telepon itu pun ikut jatuh dari genggaman ku. Kepala ku serasa kosong.
                Apa? Ann gagal menikah? Dan dia… menghilang?
                “Halo, halo…. Daigo?” suara ayahnya Ann membuyarkan lamunan ku.
                “ Iya,pak. Saya akan mencoba membantu mencari Ann,”
                “Terima kasih ya Daigo,”
                Selesai telpon itu ditutup, secepat kilat aku berlari keluar. Ku hiraukan teman-teman kerja ku yang heran dan bertanya mau kemana aku. Yang terpenting adalah sekarang aku pergi ke stasiun terdekat. Dan tanpa tahu tujuan, aku pergi pantai okoyama. aku tak tahu mengapa, tetapi feeling ku berkata Ann ada disana.
                Aku menaiki taksi kosong yang dapat kutemui pertama kali.
                “Mau kemana kita pak?” Tanya supir taksi itu.
                “Pantai okayama!”
                Diperjalanan, hatiku tak tenang. Aku takut sesuatu yang buruk telah terjadi. Yah, aku tahu kalau aku seharusnya tidak bernegative thinking. Tapi tetap saja, walau Ann terlihat kuat diluar tetapi sebenarnya hatinya lemah. Jadi bisa saja Ann melakukan hal yang bisa mencelakakan dirinya sendiri. Dan, itu terbukti……..
                Sesampainya disana, aku melihat mimpi buruk, sangat amat buruk. Aku melihat tubuh Ann tergeletak di pinggir pantai. Aku pun segera menghampirinya, diikuti sang supir taksi. Saat kudekati Ann, aku lihat dia tergeletak basah kuyup dan pergelangan tangannya berlumuran darah. Aku terdiam shock tak bergerak.
                “Uh… UWAAAH!! “ Teriak sang supir saat melihat Ann berlumuran darah.
                “Hei, nak!! Ngapain kamu?! Cepat bantu!” suruh sang supir taksi membuyarkan lamunan ku.
                “Ah… Baik,” jawabku sambil membantu membawa Ann kedalam mobil. Aku pun masih tidak sadar apa yang telah terjadi. Sepertinya hanya tubuh ku yang bergerak memapah Ann tapi tidak dengan jiwaku.
                “Lebih ke atas! Lukanya!! Harus diletakkan lebih atas dari jauntung!!” suruh pak supir kepadaku yang sedang memegangi pergelangan tangan Ann. Aku pun refleks melakukan apa yang disuruh sang supir ditengah-tengah ke tidaksadaran ku.
                “Yak, benar! Tunggu ya, aku ngebut!” sang supir menambah kelajuan mobilnya.
                Aku hanya bias terdiam memandangi Ann yang makin lama makin lemah. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi. Aku masih berandai-andai sosok  yang aku peluk adalah Ann yang sedang tertidur lelap dipelukanku.
                Sesampainya di rumah sakit, aku langsung membawa dia ke UGD. Dengan linglung aku mengabarkan kepada keluarganya kalau Ann sedang berada di rumah sakit di Okayama. Saat aku sedang berdiri termenung mencerna apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba neneknya Ann datang menghampiri ku dan berkata “Bagaimana Ann…!?”
                “Maaf bu, harap sabar. Keadaan pasien sangat kritis. Selain luka yang cukup dalam mengenai nadi di pergelangan tangannya, paru-parunya terisi cairan akibat pasien tenggelam di laut. Untung saja nak daigo membawa pasein cepat kesini. Kalau saja telat semenit, mungkin nyawa pasien tidak akan selamat” ujar sang suster.
                Semua shock mendengarnya, tak terkecuali aku. Saat melihat baju dan tanganku berlumuran darah Ann, sedikit demi sedikit aku mulai mengadari apa yang telah terjadi. Dengan sekuat tenaga aku pun pergi ke toilet untuk membersihkannya. Tapi berulang kali kucuci pun, darah yang menempel rasanya tidak akan hilang oleh air.
                Tess… sebutir demi sebutir cairan bening mengalir di pipiku. Semakin lama semakin deras tak tertahankan. Hiks hiks hiks. Aku pun jatuh tertunduk mengingat kenyataan pahit ini. Ann? Kritis? Tidak! Ini tidak mungkin terjadi! Ini pasti mimpi! Ayo daigo! Bangun! Ku geleng-gelengkan kepala.
                “TIDAK! Ann kamu tidak boleh meninggal! Kamu harus hidup, Ann!” tangis ku bertambah kencang.  Saat tersadar, aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Dengan secepat kilat aku mencuci muka dan berlari ke kamar Ann. Kakiku terasa lemas saat melihat keluarga Ann menangis di depar kamar Ann. Dengan perlahan kudekati mereka. Chii-chan yang pertama kali melihatku langsung memeluk ku erat.
                Dengan terbata-bata aku bertanya “A.. Ann. Ba… bagaimana? Dia baik-baik saja ka…n?” yang dijawab dengan gelengan kepala oleh chii-chan.
                “Daigo, Ann… koma,” peryataan dari ayah Ann membuatku jatuh terduduk lagi. Pikiran ku langsung terasa kosong. Lalu sang dokter memanggil kami semua datang keruangannya.
                “Saya mohon kalian sabar dan membantu Ann. Seperti yang kalian tahu kalau Ann mengalami koma. Dan kita tidak tahu kapan ia bangun atau yang terburuk ia bisa…”
                Sebelum dokter menyelesaikan pembicaraannya, dengan sisa-sisa kekuatan aku membentak “Bisa apa?! MATI??! Dokter gimana sih?! Kau kan dokter! Pasti dokter bisa menyembuhkan Ann!!”
                “Nak daigo, kami dokter bukanlah Tuhan. Apalagi kondisi Ann yang cukup parah. Nadinya hampir terputus! Dan yang lebih parahnya paru-paru Ann yang terisi air yang membuat ia kesulitan bernafas. Apalagi kemauan Ann untuk bertahan hidup sangatlah kurang. Yang membuat ia koma karena ia tak punya kemauan untuk berjuang.” Jelas sang dokter yang membuat kami shock.
                “Ja… jadi kita harus bagaimana dok?” tanyaku.
                “Kita hanya bisa berdoa dan memberi semangat agar Ann mau berusaha untuk bangun dari komanya. Kalau ia terus koma, kami takut Ann tidak bisa bertahan mengingat kondisi paru-parunya yang sangat lemah dan tubuhnya yang semakin lama semakin kekurangan cairan karena tubuhnya menolak apa yang mau masuk ke tubuhnya,” setelah keluar dari ruang dokter, kami pergi menuju kamar Ann. Sosok Ann saat itu membuatku diam terpaku. Ku lihat ia diam tak bergerak dengan wajah pucat pasi dan alat bantu pernapasan yang amat besar. Tak tahu sudah berapa lama aku berdiri diambang pintu, tiba-tiba chii-chan menarik ku mendekati Ann.

                Tanpa sadar, tangan ku membelai lembut wajahnya. Kenangan-kenangan indah ku bersama Ann seketika itu bermunculan seperti klise foto yang begitu jelas tetapi amat menyakitkan. Aku amat sangat rindu saat aku menyentuh wajahnya, memeluk tubuhnya dan menggandeng tangannya.

(RePost) FF Sands Chronicle / Sands Glass / Sunadokei Ch 1

Ann’s POV

Kereta yang akan membawa ku ke kantor telah tiba. Saat aku bergerak ingin menaikinya, tiba-tiba saja kepala ku terasa sangat pusing dan akhirnya aku terhuyung kebelakang. Dan kereta ku yang seharusnya membawa ku ke kantor telah pergi tanpa aku didalam sana. Bingung. Itulah reaksi pertama ku. Aku bingung harus melakukan apa. Pikiranku menjadi gelap. Aku tak lagi ingin pergi ke kantor. Yang aku tahu sekarang, aku tak punya tujuan. Tiba-tiba ada kereta berhenti di depanku. Tanpa pikir panjang aku menaiki kereta tersebut. Lalu aku mencari tempat duduk dan menghempaskan pantat ku disana. Aku Cuma ingin tidur, tanpa pernah terbangun lagi. Aku harap semua kejadian buruk ini hanyalah mimpi. Aku harap setelah terbangun, akan ada daigo disampingku yang akan selalu menggenggam tangan ku atau setidaknya pacar ku itu tak jadi memutuskan pernikahannya dengan ku hanya gara-gara hal sepele, tak mau diceramahin dengan kata-kata mantan pacarku. Tapi, aku tahu ini semua kenyataan dan bukan mimpi. Ingin sekali rasanya aku tenggelam.
Saat aku membuka mata, ada seorang ibu yang memandang ku. Ibu itu memandang ku dengan tatapan aneh, mengiba. Pelan-pelan ia mendekatiku dan berkata “ Ada apa nak? Sepertinya kau sedang ada banyak masalah? Ayo bersemangatlah!” Setelah mengatakan itu, sang ibu pergi ke gerbong lain.
Huh? Semangat?
Apa bisa?
Aku merasa… Lelah?
Capek?
Hanya kata-kata itu yang ada dipikiran ku sekarang. Aku tak tahu harus kemana lagi. Tak ada tujuan yang jelas. Tak ada lagi yang harus kupertahan kan di dunia ini. Jadi, buat apa aku harus berusaha? Kenyataan itu membuatku tersenyum puas. Ya! Buat apa aku harus berusaha. Buat apa aku mendengarkan kata ibu itu untuk tetap bersemangat. Bersemangat? Bersemangat untuk apa? Hidup ku telah hancur dan tak berguna lagi. Hahaha! Ya! Aku sekarang sangat yakin kalau aku tak perlu lagi berusaha! Sudah sepatutnya aku menyerah! Mama saja menyerah dengan mudahnya, padahal ia punya aku yang bisa dipertahankan.
Aku capek! Aku rasa aku sudah berada dikubang kegelapan. Ingin rasanya aku tenggelam dan kuharap tak ada yang akan menarik ku lagi. Dan saat aku tersadar dari lamunan ku. Ternyata kereta ini membawaku ke Okayama. Dan sekarang aku tahu harus kemana. Aku pun berjalan menuju pintu keluar, menunggu kereta ini berhenti. Setelah berhenti aku menaiki taksi yang kulihat pertama kali dan berkata “Pak tolong antar ke pantai okayama,”
Diperjalanan aku kembali melamun. Dan merasakan betapa senangnya nanti bila aku melakukan hal ini. Aku tidak akan merasa capek lagi! Aku akan bebas!
Sesampainya di pantai, aku memberikan uang melebihi argonya. Kupikir, toh tidak ada gunanya lagi uang itu. Dan tiba-tiba aku merasa pemikiran itu sangatlah benar dan aku tersenyum puas. Setelah taksi itu pergi, aku pun mendekati pantai itu. Memandang gelung ombak yang bersemangat memperlihatkan betapa kuatnya ia. Aku tertawa menyeringai dan berkata,
“Hahaha. Hei ombak! Tidakkah kamu merasa capek? Setiap hari, jam, menit, bahkan detik kau selalu bersemangat membuat ombak yang besar! Dulu memang ombakmu sangat menyenangkan kami, para manusia, tapi sekarang! Lihatlah tak ada orang yang datang kesini! Semua berbondong-bondong meninggalkan mu! Mereka sudah sibuk dengan diri mereka masing-masing tanpa ingat padamu! Tapi mengapa engkau masih saja berusaha?! Hah!”
Percuma. Teriakan ku hanya dijawab dengan deburan keras ombak itu. Hahaha. Aku tertawa getir. Aku pun meneruskan perjalanan ku mengitari  pantai okayama.
“Aduh!” teriak ku. Kulihat ke bawah. Ternyata kaki ku terkena beling-beling yang berserakan. Darah mengalir keluar dikakiku.
Darah.
Merah.
Entah  setan apa yang tiba-tiba mengampiriku. Ku raih pecahan beling itu dan ku goreskan ke pergelangan tangan ku dengan amat dalam. “Aww!!” Teriakku ketika merasakan sakit yang amat sangat. Tapi rasa sakit itu kini menyenangkan karena aku tahu ini adalah terakhir kalinya aku merasakan sakit.
Dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangan ku, aku menuju gelungan ombak yang sepertinya memanggilku untuk menemaninya. Rasa ingin tenggelam ku semakin kuat seiring senti demi senti aku menuju ke tengah laut. Dan kesadaran ku pun berangsung-angsur mulai menghilang.
Selamat Tinggal semuanya……
Aku sangat yakin dengan keputusan yang kubuat ini tapi tiba-tiba suatu benda dari saku jaketku berkhianat keluar muncul di permukaan laut. Ya! Itu adalah jam pasir pemberian daigo waktu kami berumur 14 tahun. Di kesadaran ku yang tinggal setengah, kenangan-kenangan datang menghampiri ku. Saat mama pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya, saat daigo dengan lembut memperlakukan ku selayaknya seorang wanita, saat ayah menikah lagi, dan saat pacarku memutuskan pernikahannya dengan ku. Semua berputar-putar di otak ku. Dan satu hal yang menyadarkan ku kalau ini semua salah. Saat nenek menyalahkan dirinya atas kematian mama dan aku bilang kalau aku anak yang kuat seperti nenek.
Aku yang tersadar kalau perbuatanku itu salah dan aku langsung berusaha berenang menuju pantai. Tapi sia-sia saja, walau sudah sampai pantai, kesadaran ku sudah mulai terenggut dan tergantikan dengan kegelapan. Aku hanya berharap mereka semua tak ada yang menemukan ku dan akhirnya melupakan ku dengan cepat seiring dengan berjalannya waktu. Nenek, ayah, shika, fuji, dan…. Daigo mudah-mudahan mereka tak akan menangisi kepergian ku. Dan kegelapan mulai menghampiriku dan akhinya aku tak sadarkan diri.

Selamat tinggal semua. Terima kasih untuk semuanya. Maafin Ann yang menyerah dengan mudahnya.